BBireuenkota Riak
Budaya & Tradisi Aceh

Rapai Uroe: Tradisi Unik Bireuen yang Menghidupkan Semangat Kebersamaan

Rapai Uroe adalah tradisi unik masyarakat Bireuen yang menggabungkan seni rapai dengan kebersamaan. Simak makna, perkembangan terkini, dan daya tariknya di 2025–2026.

Rapai Uroe: Tradisi Unik Bireuen yang Menghidupkan Semangat Kebersamaan

Ringkasan Cepat (Key Facts)

  • Rapai Uroe adalah tradisi memukul rapai (rebana Aceh) bersama-sama setiap petang, terutama di Masjid Raya Baitul Musyahadah Bireuen.
  • Pada 2025, tradisi ini semakin populer dengan partisipasi anak muda dan wisatawan.
  • Biaya partisipasi gratis, tetapi donasi untuk kegiatan sosial sering dikumpulkan.
  • Alat rapai tradisional bisa dibeli di Pasar Tradisional Bireuen dengan harga Rp150.000–Rp300.000 per buah (2026).
  • Pemerintah Bireuenkota memasukkan Rapai Uroe dalam kalender wisata budaya tahunan sejak 2024.

Dari Suara Rebana hingga Simbol Kebersamaan

Suara rapai yang bergema di Masjid Raya Baitul Musyahadah setiap petang bukan sekadar dentuman alat musik. Sejak 2025, Rapai Uroe telah menjadi magnet sosial yang menyatukan warga Bireuenkota dari berbagai usia. Awalnya tradisi religius, kini aktivitas ini juga dimanfaatkan pemuda setempat untuk melepas penat sambil melestarikan budaya. "Dulu hanya diikuti bapak-bapak, sekarang anak SMA sampai turis asing ikut nimbrung," kata Tgk. Amiruddin, pengurus masjid.

Ritual yang Menyentuh Aspek Sosial

Yang istimewa dari Rapai Uroe versi 2026 adalah dampak sosialnya. Setiap Jumat sore, peserta menggalang dana sukarela untuk beasiswa anak yatim. Tahun ini saja sudah terkumpul Rp12 juta per bulan. Tradisi ini juga menjadi ruang dialog antar generasi. Di sela-sela permainan rapai, sering terjadi obrolan spontan tentang isu lokal seperti pembangunan Taman Kota Jeumpa atau kenaikan harga cabai di Pasar Bireuen.

Daya Tarik bagi Wisatawan

Dinas Pariwisata Bireuenkota mencatat peningkatan 40% kunjungan wisatawan domestik ke lokasi Rapai Uroe sejak 2025. Mereka tidak hanya menyaksikan, tapi diajak praktik langsung dengan rapai cadangan. Beberapa homestay sekitar seperti Rumah Aceh Bireuen bahkan menawarkan paket pengalaman budaya termasuk workshop rapai singkat. Untuk fotografi, momen terbaik adalah saat maghrib ketika lampu masjid menyala dan siluet pemain rapai terpantul di kolam air mancur.

Orang Juga Bertanya

Kapan waktu terbaik menyaksikan Rapai Uroe?

Setiap hari sekitar pukul 17.30–18.30 WIB, dengan puncak keramaian pada Jumat sore dan malam hari libur nasional.

Apakah ada aturan berpakaian untuk pengunjung?

Disarankan mengenakan pakaian sopan menutup aurat, meskipun tidak wajib. Beberapa pengunjung asing biasa memakai baju khas Aceh yang disewakan di lokasi seharga Rp50.000 (2026).

Bagaimana cara mencapai lokasi Rapai Uroe?

Masjid Raya Baitul Musyahadah terletak di pusat Kota Bireuen, hanya 300 meter dari Terminal Bus Bireuen. Bisa dijangkau dengan ojol (Rp10.000 dari terminal) atau becak mesin (Rp15.000).

Apakah tradisi serupa ada di daerah lain?

Beberapa kabupaten di Aceh memiliki tradisi rapai, tetapi Rapai Uroe Bireuen unik karena rutinitas harian dan keterbukaan untuk partisipasi umum sejak reformasi konsepnya di awal 2024.