Festival Budaya Bireuen 2025: Menyambut Keberagaman dengan Semangat Aceh
Festival Budaya Bireuen 2025 kembali digelar dengan meriah, menampilkan kekayaan seni, kuliner, dan tradisi Aceh yang memikat. Acara ini jadi bukti harmoni keberagaman di tanah rencong.

Ringkasan Cepat (Key Facts)
- Digelar di Lapangan Kota Juang, Bireuen, dengan tema 'Bhinneka Tunggal Ika ala Aceh'.
- Tiket masuk gratis, tapi beberapa workshop kuliner tradisional berbayar (Rp50.000–Rp150.000).
- Menampilkan 50+ sanggar seni lokal, termasuk kolaborasi etnis Tionghoa-Aceh.
- Ada bazar 300 merchant dengan produk UMKM unggulan seperti kopi Gayo dan kerajinan pandai besi.
- Puncak acara: pertunjukan kolosal Tari Ratoh Duek dengan 500 penari (25 Oktober 2025).
Gelaran yang Menyatukan Ragam Etnis
Lapangan Kota Juang sejak pagi sudah ramai oleh suara rebana dan gemerincing gelang penari. Festival Budaya Bireuen 2025 kali ini sengaja mengangkat kolaborasi antar-etnis, terlihat dari panggung utama yang menghadirkan Tari Ranub Lampuan versi modern dengan sentuhan kostum Tionghoa. "Ini simbol bahwa Bireuen sejak dulu jadi melting pot," ujar Marzuki, ketua panitia yang juga budayawan setempat. Deretan stan kuliner di sisi barat lapangan mempertegas hal itu—di satu sisi ada mie aceh, di ujung lain terlihat lapo mie khas warga Tionghoa Bireuen.
Denyut Ekonomi Kreatif di Balik Seni
Bazar UMKM menjadi magnet tersendiri. Di stan nomor 47, Siti menjajakan kopi Gayo racikan baru dengan rempah khas Bireuen seharga Rp25.000 per cup. "Sudah 300 cup terjual sejak pagi," katanya bangga. Tren tahun ini adalah kemasan ramah lingkungan untuk oleh-oleh, seperti keripik pisang dalam wadah daun pisang anyaman. Dinas Perdagangan setempat mencatat transaksi bazar bisa tembus Rp2 miliar selama festival, angka yang naik 20% dari 2024. Pelatihan membatik motif rencong gratis juga selalu penuh peserta sejak hari pertama.
Warisan Budaya yang Tak Lekang Zaman
Malam hari jadi saksi pertunjukan yang memukau. Kelompok seni dari Peusangan memainkan Rapa'i Geleng dengan formasi baru, sementara anak-anak SD tampil percaya diri membawakan Didong. Yang istimewa tahun ini adalah kehadiran maestro Tari Seudati asal Bireuen, Tgk. Aman Dimot, yang melatih langsung 50 pemuda. "Gerakan kaki harus mantap seperti orang mengaji," pesannya saat gladi resik. Festival ditutup dengan pembacaan doa lintas agama di Masjid Agung Bireuen, mengingatkan semua bahwa budaya dan spiritualitas adalah dua sisi mata uang yang sama.
Orang Juga Bertanya
Apa transportasi umum yang bisa digunakan menuju lokasi?
Dari Terminal Bus Bireuen, naik angkot jalur 05 (warna kuning) turun di depan Lapangan Kota Juang. Tarif Rp5.000. Ada juga shuttle bus gratis dari 5 titik utama kota setiap 30 menit.
Bolehkah membawa kamera profesional?
Boleh, tapi untuk pengambilan gambar close-up penari atau ritual adat, wajib lapor ke panitia karena ada aturan etik tertentu. Dilarang menggunakan flash saat pertunjukan malam.
Apakah ada akomodasi dekat lokasi?
Hotel terdekat adalah Hotel Bireuen Jaya (500 m dari lokasi) dengan harga kamar mulai Rp350.000/malam. Homestay di Jalan Sudirman juga banyak pilihan sekitar Rp150.000–Rp200.000.
Bagaimana prosedur ikut workshop kuliner?
Daftar langsung di stan Dinas Pariwisata (nomor 12) dengan menunjukkan KTP. Kuota terbatas 30 orang per sesi. Materi tahun ini: membuat kue tradisional boh rom-rom dan sie reuboh.